06 Juli 2009

"pak agung": Tinggal kenangan kah?


Sabtu lalu(4/7) sebenernya hari libur karena pas jatuh dihari sabtu. Tapi dari pagi saya dah siap-siap buat mandi trus berdandan layaknya hari senin sampai jumat.

Tumben-tumbenan mandi pagi dihari sabtu ini sebenarnya ya memenuhi kewajiban saya untuk mengadakan final test untuk mahasiswa-mahasiswa yang saya ampu selama satu semester ini. Kebetulan saya selama satu semester ini diajak oleh rekan yang kebetulan juga menjadi seorang dekan di salah satu fakultas di sebuah institute agama di Banda Aceh untuk berbagi cerita (dan kadang juga kebohongan hahaha).

Cerita punya cerita, selama satu semester ngajar ini ada satu hal yang membuat saya agak sedikit aneh tapi juga menyenangkan. Apa itu? Saya dipanggil oleh mahasiswa-mahasiswa saya dengan panggilan bapak atau kadang pak atau juga pak agung. Hihihi suer pertama kali dengernya saya Cuma bisa senyum dan nahan ketawa aja huahahaha (nah ini baru saya keluarkan ketawa saya).

Saya yang masih lajang, trus belum punya istri, belum punya anak, tapi dah punya keponakan tiga. Kok dipanggil bapak hihihihi setua apa ya saya ini?

Terlepas dari masalah tua ataupun muda. Saya juga merasa bersyukur kok. Gimana enggak, kelakuan saya otomatis jadi terpengaruh juga dengan panggilan “bapak” tadi. Ehm…sedikit lebih dewasa tentunya hahaha (ketawa puas).

Tapi…hari ini setelah final test berlalu. Panggilan “bapak” itu akankah juga berlalu dan berakhir? Ehm…mungkin akan tinggal menjadi kenangan dan akan menunggu beberapa bulan entah tahun untuk dipanggil “bapak” yang sebenarnya

0 komentar:

 

mari berbuat baik Goenk Copyright © 2008 Black Brown Pop Template by Ipiet's Blogger Template