06 Juli 2009

Dicari Pemijet Sehandal Bu Somo


Wuah hari ini (6/7) badan saya kok belum sueger buger ya. Melihat kebelakang, kayaknya sih dihari-hari kemaren tidak sesibuk dan sepadet apalagi secapek pas minggu sebelumnya yang emang saya dihajar dengan kegiatan yang super melelahkan.

Kemudian puncak dari kecapekan badan saya ini pas hari sabtu (4/7) sore badan bener-bener teller, kepala pening dan hidung juga meler semeler-melernya. Dilanjut juga pada pagi hari di hari minggu (5/7) keteleran saya semakin menjadi saja. Jadwal yang telah saya susun bahwasannya pada setiap minggu pagi harus senam jantung sehat di Lapangan Blang Padang tergagalkan untuk waktu itu.

Sesuai dengan judul pekabaran saya diatas, pada saat terkapar sakit, badan pegel-pegel, saya jadi teringat dengan kehebatan mBah Somo tetangga saya yang jago banget dalam hal pijat memijat.

Trus apa hubungannya sakit saya dengan mBah Somo ini?

Hubungannya begini bapak-bapak ibu-ibu… dahulu kala ciey…sejak saya masih kecil tuh suka banget dengan apa yang dinamakan “pijit” atau yang enak dilidah disebut dengan “pijet”. Hal ini juga berkaitan dengan budaya masyarakat disekitar saya (sengaja tidak saya sebutkan dengan gambling budaya mana itu…karena saya lagi nggak semangat dikira terlalu sara ataupun rasis :p ). Di lingkungan saya ini kebiasaan pijet itu sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari mulai beberapa hari setelah dilahirkan sampai simbah-simbah yang sudah uzur pun.

Cerita pijet memijet ini buat saya sangat begitu membekas di lubuk hati yang terdalam. Hobi saya dipijet ini tumbuh dari pengalaman kecil saya. Terkadang kalaupun saya maen ke rumah nenek saya yang hanya berjarak beberapa kaki dari rumah saya, rayuan gombal saya kepada nenek saya lancarkan dan berhasil….:) saya pun yang paling sering dapat jatah dipijet hehehe. Dus buat cucu-cucu nenek saya yang lain jangan pada ngiri ya :p

Lama berlalu dan sampai gede pun kebiasaan pijet saya ini masih berlanjut. Namun tidak seperti waktu kecil saya dulu. Kebiasaan yang baru dalam urusan memijit saya ini telah beralih ke orang lain. Sejak saya SMP saya sudah punya pemijit andalan saya yaitu mBah Somo. Sosok nenek yang berusia entah 60-an atau berapa saya juga belum pernah nanya (karena menurut saya bertanya masalah umur, agama, dan jodoh itu sangat tabu. Ciey… banyak alasan koe gung :D ) ini dalam hal tenaga untuk memijat bukan suatu keharusan. Tapi yang terpenting adalah bagaimana alur atau aliran urat atau otot yang harus diperbaiki dalam dunia pijit-memijit.

Urusan keseleo mudah. Urusan otot kaku gampang tapi yang pastinya kalo urusan dompet kosong jangan skali-kali dibawa ke tukang pijet yak.

Namun…kini, setelah dua tahun saya bermukim di Kota Banda Aceh ini saya merasa kesepian. Belaian pijet yang dulu sering saya rasakan seakan hilang tak berbekas. Disaat saya teler, badan meriang tak ada lagi pijatan menohok simpul-simpul otot saya yang sering dinggap tidak lancar dalam dunia perpijetan ini. Yang tersisa tinggal hobi saya kerokan ketika badan meriang.

Terakhir kemarin pas lebaran tahun 2008 itulah saya merasakan pijetan mBah Somo yang melegenda. Semoga nanti lebaran 2009 bisa jumpa lagi dan tentunya dengan sensasi-sensasi yang tidak ada tandingannya.

2 komentar:

Lovely Dee on 7 Juli 2009 11.31 mengatakan...

Aq juga sedang dilanda keletihan ni Pak.. 6 hari kerja sungguh sangat melelahkan, meski di kantor kerjaan juga standar..

Mm, baca dari ceritamu, membuatku berpendapat, biar kamu sering dipijit, nikahilah tukang pijit. Ehh, maksudnya, menikahlah gung.. Paling tidak nanti bakalan ada pemijat yang spesial. Bahkan bisa minta plus-plus. Hehehehe, toh isteri sendiri, halal.. Okey? ;p

Bee Say on 15 Juli 2009 13.30 mengatakan...

turut berbelasungkawa ya gunk atas pegal2 yg kau rasakan..:))

 

mari berbuat baik Goenk Copyright © 2008 Black Brown Pop Template by Ipiet's Blogger Template