26 Februari 2009

Vespa Idaman

3 komentar

Iklan:

Dicari vespa idaman dengan tipe special yang masih sehat & nggak sakit-sakitan. Kalo ada sih yang cantik & berbodi sexi. Mahar untuk menebusnya juga yang nggak kelewat berat alias normal-normal aja.

Vespa bagi saya sebenarnya nggak istimewa-istimewa kali tapi dari jaman sekolah dulu saya dilarang untuk bermain api dengan vespa oleh ayah saya tercinta.

Tau sendirilah vespa kan bagi sebagian besar orang awam terkenal dengan penyakitnya kalo dah macet harus maen dorong-dorongan.

Kenapa saya cari vespa special karena saya pikir kalo toh nanti ngadat & harus dorong nggak berat-berat amat. soalnya kan vespa ini berbadan ramping sesuai dengan ukuran bodi saya yang nggak gemuk.

Buat temen-temen semua yang ada info tentang vespa yang saya maksud bisa kasih info ke saya di blog ini atau imel aja ke: goenktower81@gmail

oiya lupa kalo ada yang berdomisili di sekitaran banda aceh...

matur nuwun

10 Februari 2009

Kenapa Harus Garuda?

12 komentar
Kenapa harus Garuda? lagi-lagi saya harus kembali bertanya, kenapa sih lambang negara saya Indonesia tercinta ini memakai Garuda.

Jujur aja saya akui, saya bener-bener belum menemukan jawaban yang pas. Sejak saya TK sampai dah segede ini yang saya tahu ya lambang negara saya ya Garuda titik. Gitu aja.

Kalau saya hubung-hubungkan dengan apa yang ada dan terjadi disekitar saya sih, kayaknya lambang negara saya ini terlalu maksa gitu kayaknya. Ini kayaknya loh. Bagaimana tidak, sekali lagi jujur saya akui sampai segede ini pun saya juga belum pernah melihat burung garuda yang senyata-nyatanya. Hehehe malu-maluin kan? Lah saya kalo maen ke sawah dulu liatnya manuk emprit jee. Kalau maen ke rumah tetangga cuma ada burung betet.

Jangan-jangan lambang negara saya tercinta ini cuman simbol aja kali ya. Biasanya kan kalau kerajaan-kerajaan jaman dahulu itu selalu memakai perlambang yang hebat-hebat untuk menguatkan legitimasi sebuah kekuatan. Bisa jadi garuda ini merupakan simbol saja ya. Yang menggambarkan betapa kuatnya bangsa atau negara saya ini. Garuda kan katanya lagi burung yang kuat, paling jagoan gitu mungkin yaa. Tapi jeleknya garuda neh, dia tuh semena-mena (ini dari dongeng yang pernah saya denger loh, bukan saya yang ngomong). Pemangsa hewan-hewan yang lemah. Kalau nggak salah dulu pas pelajaran biologi kan pernah diajarin tentang rantai makanan. Nah bisa jadi garuda ini posisinya paling atas.

Dus...pendiri negara saya berarti punya khayalan menjadikan negara saya ini menjadi negara yang top. Wah keren juga tuh...salut deh...

Tapi...kembali lagi ke lambang negara saya tadi kenapa harus garuda to ya?kenapa harus yang suka mangsa-memangsa to ya? Saya jadi herman...eh heran ding maksudnya.

Kalau menurut saya sih paling pantes negara saya ini menggunakan sirih sebagai lambang negara. Wah pasti lebih keren tuh. Sirih tu melambangkan kebijaksnaaan, rendah diri, simbol kemuliaan, sumber perdamaian, selain itu sirih pun mudah dijumpai dan sangat familier dengan masyarakat negara saya ini. Eehm...seandainya ya!

09 Februari 2009

Gotroy mBikin Got

3 komentar

Super sekali....

hehehe jadi inget kalimat yang sering diucapkan Mario Teguh ya.

Padahal hari ini masih cuapek bin puegel-puegel gara-gara seharian kemarin gotroy alias gotong royong bikin got baru di komplex. sebab musababnya ya gara-gara hari sabtu (7/2) sehari sebelumnya tuh turun ujan duerez banget mpe sebagian besar komplex kerendem air ujan. (asik ujan..ujan...hahaha)

Betewe eniwe baswe terbayar sudah lah kecapekan yang sampe sekarang terasa dengan got yang telah mengalirkan air dari kubangan besar mirip danau di depan komplex.

Pokoknya super sekali deh got-nya walaupun belum teruji dengan hujan derez kayak hari sabtu kemaren tuh. Semoga kalo ujan derez datang lagi nggak bikin komplex kerendem deh.

uh...super pegel...super puas...

04 Februari 2009

Tuhan Apa Partai Mu?

9 komentar

Tuhan pemilu sudah mendekati
Saya semakin dibuatnya menjadi bingung
Bingung bukan karena banyaknya partai
Bingung bukan karena banyaknya caleg

Tapi bingung oleh kebohongan
kebohongan apa lagi yang akan tercipta
yang akan menjadikan bangsa saya ini terpuruk
semoga tidak lagi

Tuhan apa partai-Mu?

Yah itulah pertanyaan sederhana saya untuk sementara ini. Saya teringat ketika membaca tulisan Abdu Latif Bustami yang judulnya “Tuhan Agama Mu Apa?Relasi Kuasa Republik dan Keyakinan Keagamaan Publik” dalam Kepercayaan Dalam Sebuah Realitas. Kayaknya pertanyaan semacam itu sangat pas untuk saat ini. Kita lihat atas nama agama banyak bermunculan partai politik berideologi agama. Entah Islam, Kristen atau Katholik atau yang lain.

Saya merasa kurang pas saja ketika agama harus dikaitkan dengan kehidupan duniawi yang penuh tipu muslihat semacam parpol-parpolan ini. (Btw koe kok dadi sok serius to Gung?)

Seolah partai-partai itu menggunakan kuasa Tuhan untuk kepentingan pribadi sesaaatnya. Mereka pasti berkampanye dengan membawa Tuhan. “centang Partai kami pasti masuk surga!”, mungkin begitu gaya-gaya Caleg dalam kampanyenya.

Capek deh...

Jujur aja saya sangat tidak sependapat dan tidak terima agama yang saya anut ini “dilecehkan” segerombolan orang-orang yang entah dapat wangsit dari mana mereka mengklaim agama (termasuk agama saya) dijadikan komoditi politik. Kalau mereka bikin agama sendiri sih boleh aja buat kampanye sampe berbusa.

Saya cuma bisa mengingatkan agar temen-temen semua berhati-hati dan waspada dengan kondisi lingkungan yang semakin hari kayaknya banyak “provokator-provokator” yang ingin memecah belah umat.

Bukan begitu kan? Semoga nggak salah... hehehehe

03 Februari 2009

Pilih Saya Saja!

9 komentar
Pilih saya saja wapresnya, mBah Maridjan Presidennya! Gimana...?

Saya akan berikan yang terbaik untuk bangsa saya tercinta ini. Hukum kita tegakkan setegak-tegaknya itulah kunci menjadikan bangsa yang seutuhnya.

Saya nggak mau muluk-muluk. Kita bikin bangsa ini bangsa yang besar sebesar-besarnya. Tentunya dengan kerja keras kita semua toh bukan dengan viagra atau malah dibawa ke tempat Mak Erot lho kalau pengen membuat bangsa menjadi kuat dan besar :P

Saya yakin duet saya dengan mBah Maridjan pasti akan membawa Indonesia lebih ROSO... bukan begitu kan mbah?hehehe

Wah...wah saya kok jadi ketularan para politi(kus) yang lagi kena virus pemilu ya?hahaha boleh to saya bergaya menjadi seorang pemimpin. Cuman bergaya lho! Jangan ditanggapai serius lha wong ini cuman salah satu keisengan saya kok, harap maklum yaa.

Betewe eniwe baswe perkenalan saya dengan mbah Maridjan ini sebenarnya bukan dalam rangka pergelaran politik atawa silaturahmi politik yang sekarang ini lagi trend di kalangan politisi yang pengen menggalang kekuatan menuju singgasana negeri ini. Tapi suer ini adalah pertemuan biasa ya layaknya para pencinta alam yang hobinya naek gunung Merapi di Jogjaku tercinta. Maklum saja mbak Maridjan ini adalah yang diberi tugas menjaga (juru kunci) Gunung Merapi. Dus... sapa sih yang nggak kenal mBah Maridjan kalo dah sampai Merapi.

Yah itu tadi sekilas perjumpaan saya dengan mBah Maridjan. Salam kangen saya buat mBah Maridjan di Jogja sana! i miz u mbah...

01 Februari 2009

Tokek

6 komentar
Hari ini hari minggu yang sangat santai. Kali ini saya mau cerita tentang tokek. Yaa tokek…

Saya masih ingat beberapa bulan yang lalu Damar, adik kelas saya di kampus sms begini, “Mas ada tokek nggak di tempat kamu?”.

Saya pun heran, tumben-tumbenan si Damar cari barang yang agak aneh. Cerita punya cerita ternyata saya diajakin bisnisan tokek sama si Damar yang badannya 3 kali lipat dari badan saya. “kalo ada tokek yang beratnya 3,3 ons kirim aja mas ke aku,nanti tak beli 1 juta gimana mau nggak?, begitulah provokasi Damar yang emang jagonya dalam berbagai bentuk provokasi. Sampai sekarang saya belum menemukan tokek yang 3,3 ons tersebut.

Gimana mau ketemu wong saling kenal aja belum pernah kok hahaha.

Dirumah sebenarnya ada tokek. Ini menurut analisa telinga saya loh. Kira-kira kalo ada bunyi tokek…tokek… nah itu tandanya ada tokek disekitar kita. Entah darimana datangnya sang tokek itu. Kok tiba-tiba aja abis dirasani mau ada bisnisan tokek, sang tokek itu muncul dengan suaranya yang begitu keras. Jangan-jangan pengen ngikut bisnis kali ya sama si Damar.

Ngomong-ngomong tentang tokek, tau nggak sih berapa kali rata-rata si tokek itu bersuara dalam setiap nokek?(istilah nokek ne saya ambil dari suara si tokek aja bis nggak nemu sih tokek tu kalo bersuara disebut apa).

Setelah saya perhatikan ternyata tokek tu kalo bersuara rata-rata 5 kali nokek dalam setiap set-nya. Diawali dengan ambil suara 2 kali dilanjut nokek 5 kali. Kira-kira begini : kreketek…kreketek…tokek…tokek…tokek…tokek…tokek… Nah seperti itulah satu set suara tokek yang biasa saya dengar dirumah saya.

Sekarang coba perhatikan tokek di rumah temen-temen semua apa sama suara tokeknya dengan yang dirumah saya.

poto tokek saya comot dari indonetwork.co.id

29 Januari 2009

Kesenjangan oh Kesenjangan

16 komentar
Baca berita hari ini (Serambi Indonesia,29/1) nampaknya saya harus garuk-garuk kepala, bukan karena gatal atau ada ketombe, tapi oleh isi berita yang ada didalam koran itu. Berita yang bikin gatal kepala neh terkait dengan kenaikan tunjangan untuk pegawai PNS di pemprov NAD yang banyak orang sih diluar kewajaran (kata orang loh…)

Katanya sih ada yang nyampek 12juta / bulan, coba bayangkan itu belum termasuk gaji loh. Weleh…weleh… kalau uangnya ribuan semua bias satu kamar itu banyaknya huahaha.

Kemudian ada anggota dewan yang bilang, kenaikan ini bias menimbulkan kesenjangan, khususnya pegawai yang bertugas di provinsi dengan yang di kota atau kabupaten. Bayangkan saja ( yook kita bayangin lagi…) tunjangan pegawai di kota katanya hanya 800ribu. Beda jauh kan…

Nah yang itu tadi katanya dewan ya. Sekarang kata saya neh… Pertama kalau menurut pengamatan saya, kenaikan tunjangan itu sebenarnya sah-sah saja. Terserah bos-nya to ya. Saya ini kan cuma wong cilik.

Yang kedua tadi anggota dewan bilang tunjangan menimbulkan kesenjangan pegawai provinsi dengan pegawai kota. Kok bisa-bisanya gitu loh anggota dewan yang katanya wakil rakyat melupakan rakyatnya. Yang pasti kan kenaikan tunjangan jelas semakin meningkatkan kesenjangan antar rakyat toh. Rakyat yang pegawai propinsi dengan rakyat yang bukan pegawai apa-apa. Yang kemaren jurang kesenjangannya hanya 2 meter, nanti kalo dah naik bias-bisa jadi 12 meter lagi. Coba bayangkan (yook….)

ehm… atau jangan-jangan sang pengambil kebijakan lagi demam “anggota dewan”, kena virus naikin aja tunjangan semau perut sendiri. Semoga enggak sih dan saya slalu berharap slalu sehat wal afiat ajah juga tetap peka dengan kehisupan sosial masyarakatnya yang tidak seberuntung para pegawai pemprov.

Yah itulah berita pagi ini yang sempat saya baca dan bikin saya harus garuk-garuk kepala.
Baca berita hari ini (Serambi Indonesia,29/1) nampaknya saya harus garuk-garuk kepala, bukan karena gatal atau ada ketombe, tapi oleh isi berita yang ada didalam koran itu. Berita yang bikin gatal kepala neh terkait dengan kenaikan tunjangan untuk pegawai PNS di pemprov NAD yang banyak orang sih diluar kewajaran (kata orang loh…)

Katanya sih ada yang nyampek 12juta / bulan, coba banyangkan itu belum termasuk gaji loh. Weleh…weleh… kalau uangnya ribuan semua bias satu kamar itu banyaknya huahaha.

Kemudian ada anggota dewan yang bilang, kenaikan ini bias meniimbulkan kesenjangan, khususnya pegawai yang bertugas di provinsi dengan yang di kota atau kabupaten. Bayangkan saja ( yook kita bayangin lagi…) tunjangan pegawai di kota katanya hanya 800ribu. Beda jauh kan…

Nah yang itu tadi katanya dewan ya. Sekarang kata saya neh… Pertama kalau menurut pengamatan saya, kenaikan tunjangan itu sebenarnya sah-sah saja. Terserah bos-nya to ya. Saya ini kan cuma wong cilik.

Yang kedua tadi anggota dewan bilang tunjangan menimbulkan kesenjangan pegawai provinsi dengan pegawai kota. Kok bisa-bisanya gitu loh anggota dewan yang katanya wakil rakyat melupakan rakyatnya. Yang pasti kan kenaikan tunjangan jelas semakin meningkatkan kesenjangan antar rakyat toh. Rakyat yang pegawai propinsi dengan rakyat yang bukan pegawai apa-apa. Yang kemaren jurang kesenjangannya hanya 2 meter, nanti kalo dah naik bias-bisa jadi 12 meter lagi. Coba bayangkan (yook….)

ehm… atau jangan-jangan sang pengambil kebijakan lagi demam “anggota dewan”, kena virus naikin aja tunjangan semau perut sendiri. Semoga enggak sih dan saya slalu berharap slalu sehat wal afiat ajah juga tetap peka dengan kehisupan sosial masyarakatnya yang tidak seberuntung para pegawai pemprov.

Yah itulah berita pagi ini yang sempat saya baca dan bikin saya harus garuk-garuk kepala.

28 Januari 2009

Kerokan

8 komentar
Hari minggu (25/01) kemaren kayaknya jadi hari yang cukup membuat repot badan saya. Dari siang badan sudah terasa pegal dan ngilu-ngilu, berarti tanda-tanda meriang segera datang. Tak salah memang, perjalanan panjang Medan-Banda Aceh badan saya harus ditemani dengan meriang dan badan ngilu-ngilu.

Suer deh. Ditanggung nggak enak banget kalo badan lagi meriang. Minum jamu instan pun tak ketinggalan saya lakukan, biar bablas angine begitu kira-kira kata almarhum Basuki yang dulu sering nongol di tivi.

Sampai minggu malem badan saya masih juga belum bisa diajak berasik-asikan. Akhirnya seperti kebiasaan lama yang dari kecil sudah diperkenalkan, ambil recehan plus balsem, siap deh buat kerokan.

Kalau merunut kembali sejarah kerokan yang sudah saya praktekkan berpuluh tahun lamanya, kerokan ini sudah kayak garam dalam masakan, kira-kira begitu. Kalau masakan nggak ada garam kan terasa hambar, nah kalau pas lagi masuk angin nggak ada kerokan tuh rasanya juga hambar plus kurang greng gitu loh.

Saya masih inget betul. Dulu tuh saya pas masih batita orang tua saya kalo melakukan ritual kerokan ini biasanya pake brambang(bawang merah) ditambah dengan minyak kayu putih. Ritual semacam beginian ini yang bikin saya terasa hangat walaupun sebenarnya sangat nggak nyaman. Gimana nggak, badan dicolek-colek pake brambang kan lengketnya bukan maen. Dah mirip kayak lele yang mau disantap dengan sambel lamongan gitu deh.

Periode berikutnya tentang kerokan bagi saya berlanjut ketika tradisi kerokan juga dilakukan oleh mbah Somo, yang ini ibunya mbak Ros yang ngasuh saya waktu balita. Kalo saya lagi masuk angin, saya yang waktu itu masih kecil-kecilnya itu langsung ditidurkan telungkup di atas pangkuannya dengan baju terbuka. Habis itu langsung deh, kerokannya pake benggol(duit recehan jaman belanda) ditambah dengan minyak tanah kalo enggak pake minyak kayu putih. Mak nyos...kenikmatannya pun tak tergantikan sampai sekarang.

Yah begitulah cerita tentang kerokan yang sangat membekas dalam kehidupan sejarah. (Wah kalau bisa-bisa jadi tema baru buat nulis sejarah neh hahaha “sejarah kerokan”)

Dus...sekarang kita tinjau kerokan dari sudut pandang yang (katanya) ilmiah. Menurut Dr. Koosnadi Saputra, Sp.R, akupunkturis klinik, kerokan itu mirip prinsip pemanasan dengan menggunakan moxa yang sering dipakai saat jarum akupunktur ditusukkan pada tubuh untuk mengatasi masuk angin. Prinsip ini juga tidak jauh berbeda dengan model terapi kop yang biasanya menggunakan alat seperti tanduk, gelas, karet, tabung bambu dan lain-lain. Dr. Koosnadi menyebutkan, prinsip kerokan adalah upaya meningkatkan temperatur dan energi pada daerah yang dikerok. Peningkatan energi ini dilakukan dengan pemberian rangsang kulit tubuh bagian luar. Dengan merangsang permukaan kulit lewat dikerok, saraf penerima rangsang di otak menyampaikan rangsangan untuk menimbulkan efek memperbaiki organ yang terkait dengan titik-titik meridian tubuh seperti misalnya organ paru-paru.

Dr. Handrawan Nadesul menambahkan, efek kerokan yang hendak dicapai adalah mengembangnya pembuluh darah kulit yang semula menguncup akibat terpapar dingin atau kurang gerak, sehingga darah kembali mengalir deras. Penambahan arus darah ke permukaan kulit ini meningkatkan mekanisme pertahanan tubuh terhadap serangan virus.

Menurut Didik Tamtomo, dosen FK UNS yang menjadikan kerokan sebagai bahan penelitian gelar doktor di FK Unair, secara ilmiah, praktik pengobatan ini terbukti mampu mengobati gejala masuk angin atau sindroma dingin yang memiliki gejala nyeri otot (mialga). Pada kerokan, secara ilmu biologi molukuler terjadi suatu reaksi inflamasi atau radang dengan segala respon yang mengikutinya seperti perubahan diameter vaskuler (pembuluh darah), migrasi sel darah putih (leukosit) dan pengeluaran mediator inflamasi seperti IL-1 beta, Clq, C3, Beta endorfin dan PGE2.

"Nah, biang penyebab rasa nyeri adalah PGE2 karena menaikkan kepekaan nosiseptor yang disebut sentra sensitisasi. Sehingga jika kadar PGE2 bisa diturunkan maka nyeri tersebut akan berkurang," ujar Didik.

Selain mediator inflmasi, pada kerokan juga terjadi rangsangan pada keratinosit dan endotel atau lapisan paling dalam pembuluh darah yang akan bereaksi dengan munculnya propiomelanokortin (POMC). POMC merupakan polipeptida yang kemudian akan dipecah dengan hasil akhir salah satunya adalah Beta endorfin.

Dalam penelitian yang dilakukan Didik, pasca kerokan didapatkan peningkatan IL-1 beta, Clq, dan Beta endorfin. Sementara kadar C3 dan PGE2 justru turun. Hasil ini menyebabkan berkurangnya nyeri otot, rasa segar, nyaman dan eforia. Inflamasi yang ditimbulkan selain meredakan nyeri otot juga akan memicu reaksi kardiovaskuler. Tandanya adalah peningkatan temperatur tubuh secara ringan, antara 0,5-2 derajat Celcius.

Nah begitu cerita tentang kerokan. Mohon doanya ya biar saya lekas sembuh total, biar bisa jingkrak-jingkrak lagi. :)

disarikan dari pengalaman pribadi dan beberapa sumber yang dapat dipercaya.
foto: dok pribadi (boleh kok kalau ada yg mau kopi-paste)

22 Januari 2009

Pancasila Kita

4 komentar

Beberapa waktu lalu saya mendapat kiriman sebuah buku baru yang sudah enggak baru lagi (terbitan tahun 2002). Judulnya dari Samudra Pasai ke Yogyakarta yang diterbitkan oleh Masyarakat Sejarawan Indonesia. Bukunya asyik banget yang isinya kumpulan tulisan dari banyak orang yang dipersembahkan sebagai “Kado Ultah Prof. Ibrahim Alfian”.

Dari sekian banyak tulisan yang menarik itu, ada salah satunya yang menyinggung sedikit tentang pancasila tulisan dari Pak PJ. Suwarno. Beliau mengomentari kembali buku Sejarah Nasional Indonesia VI yang diperbandingkan kembali dengan pernyataan Bung Hatta, siapa sih sebenarnya perumus Pancasila.

Namun, saya tidak akan memperpanjang perdebatan tentang siapa perumus Pancasila tadi. Saya cuma mau sedikit mengutip dari kutipan yang ada di buku ini (weleh…weleh… sudah kutipan dikutip lagi. Hehehe…). Yaitu “ Bung Karnolah satu-satunya yang tegas-tegas mengusulkan filosofishe grondslag untuk negara yang akan dibentuk; yaitu lima sila yang disebut Pancasila; hanya urutannya sila Ketuhanan ada di bawah”.

Nah, sekarang bukan siapanya yang akan saya otak-atik, tapi ada yang lebih menarik dari kutipan tersebut untuk lebih dipelototin. Yaitu “urutan sila Ketuhanan ada di bawah”.

Saya jadi teringat lagi neh pada masa-masanya kuliah dulu. Pas ngambil mata kuliah pancasila, kuliahnya ngluruk sampai ke Fakultas Filsafat. Saya ingat waktu itu dosennya emang nggak sesuai dengan jadwal yang tertulis. Dan iyanya lagi, sang dosen itu ngaku kalau emang sebagai dosen pengganti, dari pertama kuliah sampai ujian akhir (yang gini neh namanya ngganti nggak sih? Ngganti ko dari awal sampe akhir. Hihihi…) Tapi saya cukup beruntung walaupun Cuma dosen serep tapi kuliahnya top markotop. Sangat demokratis & kritis.

Dalam salah satu kuliahnya pun, sempat-sempatnya diajak berdiskusi, berfilsafat dengan Pancasila. Waduh kalo yang beginian harus siap-siap obat sakit kepala sebelum kuliah lho. ”Bagaimana ideal Pancasila?”, kira-kira begitu mungkin ya kalo nggak salah inget, lha dah bertahun-tahun je…

Waktu itu diajak berimajinasi kayaknya lebih tepat nyebutnya. Gimana nggak, Pancasila yang dibikin bertahun-tahun yang lalu sebelum saya lahir kok disuruh pusing membolak-balik. Dari hirarki sampai entah apanya gitu.

Dan saya pun sekarang kembali bertanya. Apa iya Pancasila yang sekarang itu sudah pas? Sekali lagi melihat kutipan di atas tadi. Saya sangat sependapat dengan gagasan Bung Karno. Bahwasannya sila Ketuhanan itu ada di bawah. Ini bukan berarti saya melecehkan Tuhan.

Tuhan kok dibawah to Gunk? Nggak takut kualat po koe?

Alesan saya sederhana saja. Kalau Ketuhanan itu ada di depan berarti tujuan akhirnya adalah keadilan social. Nah lagi-lagi menurut saya, tetap pas, kalau Tuhan itu ada di belakang, jadi setelah keadilan social terpenuhi kita akan tetap ingat dengan Tuhan dan kalau selalu ingat Tuhan kita semua akan bebas dari apa yang namanya itu Pekat alias penyakit masyarakat, seperti korupsi yang sekarang ini bukan hanya konsumsi pejabat di atas saja, tapi virusnya juga sudah mulai menjangkiti wong cilik.

Yah mungkin itulah harapan Bung Karno dulu yang menempatkan Ketuhanan di bawah agar rakyat Indonesia ini punya tujuan akhirnya yang selalu ingat dengan Tuhan.

Wallahualam..

Semoga kita selalu ingat Tuhan kita!
 

goenkism Copyright © 2008 Black Brown Pop Template by Ipiet's Blogger Template